10 Years Journey

I remember 10 years ago on March 8th 2010, my father told us that by being together, we will be stronger to support each other’s dreams. And after all these years we’ve been through, one of my biggest dreams is to be with my family both in dunya and in Jannah. Hopefully every step that we take will keep us closer to Allah.

“Three goals to be a Better Muslim” by Nouman Ali Khan : Sebuah Catatan Kecil

Seperti halnya skill yang jika tidak terus menerus diasah maka akan mudah hilang, saya menyadari bahwa kadar keimanan seseorang pun tidak bersifat konstan. Dalam satu waktu bisa saja kita intensif sekali membaca Al-Quran, namun di waktu lain lalai karena kesibukkan rutin lainnya. Lalu bagaimana caranya agar kadar keimanan kita tetap terjaga dan kita dapat menjadi muslim yang lebih baik setiap hari?

Continue reading ““Three goals to be a Better Muslim” by Nouman Ali Khan : Sebuah Catatan Kecil”

Membantu Anak untuk Berkonsentrasi

 

Pernah suatu kali saya memperkenalkan konsep warna kepada Dzaky (anak saya yang saat itu berusia 18 bulan). Ia saat itu tengah asyik bermain bola-bola dengan warna beraneka ragam di dalam tenda. “Dzaky, Ini bola biru, merah, hijau, kuning…”, sembari menunjuk bola satu persatu sesuai dengan warnanya. “Dzaky, bola biru mana bola biru?”. Dzaky yang saat itu tengah sibuk bermandikan bola warna-warni itu, tetap saja melanjutkan aktivitasnya.

Continue reading “Membantu Anak untuk Berkonsentrasi”

Bermain, Pentingkah untuk Anak?

 

Sejak kecil saya tumbuh di lingkungan di mana ibu sangat mendukung anak-anak untuk bermain. Masih lekat dalam ingatan ketika dulu beliau membawa berbagai macam jenis mainan sepulang bekerja. Meski mainan tersebut sebagian besar adalah mainan bekas yang dibeli dari second-hand market, tapi kami saat itu selalu bahagia luar biasa. Ketika kami masih kecil, ibu juga sering membuat mainan dari bahan-bahan bekas. Saya masih ingat ketika beliau membuat miniatur boneka kecil dari kain, benang, dan kertas.  Dalam beberapa kesempatan, ibu juga terlibat aktif saat kami bermain. Saat bermain board game Monopoli, misalnya, beliau ikut menjadi pemain sekaligus menjadi banker yang mengatur laju keuangan. Ketika saya kalah, ibu dengan sabar ikut mendampingi proses saya untuk belajar menerima kekalahan dari permainan yang kemudian dianalogikan dengan kasus dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading “Bermain, Pentingkah untuk Anak?”

Mengenai Konsep Flow dalam Computer Games dan Filosofi hidup

 

Pernahkah anda bertanya mengapa seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk bermain games? 

Pertanyaan di atas sangat menarik bagi saya terutama karena saya dan kakak semenjak kecil adalah penggemar computer games.  Sekedar flashback dua puluh lima tahun silam, komputer bagi kami tidak ubahnya seperti layar hitam-putih yang dipenuhi barisan-barisan perintah mesin. Masih lekat dalam ingatan bahwa kami sibuk mengutak atik komputer kerja ayah untuk sekedar bermain Tetris atau Don King Kong. Di tahun 1990-an, ayah masih menyelesaikan studinya dengan mengembangkan program berbasis Fortran-sebuah bahasa pemrograman yang dikembangkan pertama kali oleh IBM di tahun 1950-an dan marak digunakan saat itu untuk scientific computing.  Beberapa tahun kemudian teknologi komputer berkembang semakin pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya beberapa sistem operasi yang mendominasi seperti Windows. Berbagai macam computer games dengan grafik yang lebih canggih mulai bermunculan dan menarik perhatian masyarakat luas-termasuk anak-anak seusia kami saat itu. Pernah suatu kali saya dan kakak melewatkan waktu makan hanya karena sedang berada di tengah-tengah aksi peluncuran serangan ke kubu the Brotherhood of North dalam permainan Command and Conquer :P. Lalu, mengapa kami bisa sangat antusias dalam bermain sehingga melupakan kebutuhan primer seperti makan dan tidur?

Continue reading “Mengenai Konsep Flow dalam Computer Games dan Filosofi hidup”

Pelajaran dari Sahabat

Bismillah,

3 Januari lalu, pagi hari waktu Canberra, kami (saya dan istri) mendapat kabar yang mengejutkan. Kabar duka seorang sahabat kuliah kami di Ilmu Komputer IPB dahulu, meninggal karena sakit dan cukup tiba-tiba. Saya pribadi cukup tahu sahabat saya ini karena saya sering menjadi penghuni gelap kosannya.

Orangnya baik, puitis, gemar mengumpulkan komik & anime – otaku? relatif, penggemar kecap, etc.

2011 mungkin menjadi kali terakhir kami bertemu sebelum saya dan istri terbang ke Australia untuk melanjutkan pendidikan dan hidup.

Beberapa pelajaran yg bisa kita ambil dari perginya sabahat kami ini,

  • maut itu dekat, tiada yang tahu kapan giliran kita? maka sudah siapkah kita?
  • bahwa semua amalan kita dicatat, bahkan di duniapun sudah bisa kita traceback – lewat web, sosial media, etc. maka lihat balik jejak kita, semoga kita meninggalkan jejak yang baik.
  • sebab apakah keletihan yang kita rasakan? akhirat kah? atau hanya untuk dunia? maka berletihlah pada jalan ketaqwaan dan kebaikan, dan mencoba, berusaha, berbagi dan mengajak pada kebaikan sebagai bekal akhirat kita.
  • memilih teman itu penting, teman yang selalu mengingatkan kepada ketaqwaan. Semoga ketika tiba giliran kita kembali, mereka ikut mendo’akan.
  • waktu tidak akan pernah kembali. Semoga kita dapat memanfaatkannya secara penuh.

Selamat jalan sahabat, Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihii wa’fu’anhu…